Fatimah,
Sudah panjang waktu berjalan. Kita bertemu dalam kurun waktu yang tak singkat. Pulau Jawa mempertemukan kita dalam kampus raksasa yang membuat kita rindu kembali kesana. Pulau Celebes mengikat rasa antara kita, yang dahulu seolah sekedar “ramah tamah” semata.
Berbulan-bulan di kota Angin Mamiri kita tak berjumpa, seolah kita berada di benua yang berbeda. Hari-harimu dengan wacana ilmiah dan semangat menjelajahmu membuat kita terpisah, juga karena rutinitasku dalam dunia suci-semuci ini. Selalu ada halang-rintang yang membuat kita sulit bahkan untuk bertemu beberapa menit saja.
Aku mengucap syukur, meskipun beberapa saat lagi kita akan berpisah pulau kembali, tapi pertemuan hari ini menyadariku betapa berartinya dirimu untukku. Sulit untuk membohongi diri sendiri. Senyum dan candamu di warung kopi itu membuatku terdesak untuk mengekspresikan rasaku padamu. Aku bahagia sekali ketika kau mau memanggilku “sayang”, walau memang awalnya agak kaku, tapi itu membuat hati sulit diam dan memaksaku semakin mengajakmu pada tingkatan yang lebih dari sekedar canda. Keinginanku untuk terus menjalani waktu bersamamu pun semakin memuncak.
Sedih memang, karena kita baru memulai lembaran ikatan rasa kita hari ini. Namun aku yakin tidak ada kata terlambat. Tidak ada pula hal yang kebetulan, ketika kita ternyata dipertemukan kembali di pulau yang jauh dari tempat kita duduk di bangku kuliah dulu. Meski kau tidak lagi sendiri, akupun begitu, tapi kalau memang kita sepakat mau mewarnai dan membuat hidup kita semakin bermakna dan penuh petualangan indah, aku janji akan memberikan yang terbaik.
Janjimu pun untuk menjumpaiku di ibu kota akan terus ku pegang. Sembari pula namamu akan terus terangkat dalam tiap doa dan perenunganku. Jadi teringat juga ketika kau bilang namaku ada di sujudmu, itu gak pernah aku lupakan. Itu kenangan terindah hari ini, dan ketika kau mau memberi ruang bagiku untuk memeluk dan mengecup pipimu. Semalaman ini aku dihantui kenangan indah itu.
Imajinasiku semakin tinggi dan kreatif. Rinjani akan menjadi petualangan seru kita. Pasti ada petualangan seru lainnya. Kau sudah mengalaminya dengan sandiwara kita dalam religiusitas di tengah umat Kristiani, yang bukan keimananmu. Sepanjang ibadah itu bibirku tersungging dan sedikit geli ketika melihatmu dan mendengarmu menyanyi. By the way, suaramu bagus juga. Pernah jadi anggota kelompok kasidahan, ya? Haha…
Satu hal lain yang membuatku tidak bisa beranjak dari rasaku padamu adalah kedewasaanmu yang membuatku nyaman bersamamu. Aku pun berharap kau merasakan kenyamanan itu juga padaku. Aku janji akan menjadi ruang hangat bagimu di dinginnya dunia yang sepi dengan cinta-kasih ini. Aku gak sok puitis, tapi ini caraku menyatakan rasa sayangku padamu.
Fatimah, meski dunia tidak mengijinkan kita untuk terus selalu bersama, kau tahu bahwa hatiku tak akan terbagi untuk yang lain. Kaupun berkata begitu, kan? Please say yes! Haha…
Lots of love,
Christian