White Oleander# 2

Saya menyandarkan kepalaku ke kakinya. Baunya seperti wangi violet. “kita adalah tongkat sihir,” katanya.” Kita berusaha keras untuk kecantikan dan keseimbangan, sentimental yang berlebihan atas kesensualan.”

“Tongkat,” ulangku. Saya ingin dia tahu kalau aku mendengarnya. Sesuai dengan tarot kita, tongkat. Dia menggunakan kartu tarot sebagai gambaran untuk ku, menjelaskan kesesuainnya: tongkat dan koin, gelas dan pedang, tetapi Ia berhenti membacanya. Dia tidak ingin lagi mengetahui masa depan.

“Kita menerima pewarnaan dari Norsemen,” katanya. ” Berbulu biadab orang yang telah meng-hack Tuhan mereka hanya untuk memotong dan menggantung daging dari pohon. Kita adalah orang-orang yang dipecat oleh Roma. Katakutan hanyalah usia tua yang lemah dan kematian di pembaringan. Jangan lupa siapa kamu sesungguhnya.”

“saya janji,” ucapku.

Di bawah kami, di jalan daerah Hollywood, dengkingan sirene seakan menggergaji saraf saya. Di Santa Anas, pohon eucalyptus terbakar layaknya seperti lilin raksasa dan bukit Chaoarral naik terburu-buru, dan rusa-rusa yang kelaparan turun dari bukit ke Franklin Avenue.

White Oleander# 3

 

 

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.