Diam mu
Penggalan kalimat ini pernah tertulis rapi di lembar skripsiku,
“Teruntuk kamu, dalam diam mu ku merajut asa, menjalin mimpi dan mengukir kenangan”. Terima kasih atas kesediaan mu memberi ruang untuk ku, kedatangan mu dan kepergiaan mu yang selalu samar, namun di diam mu aku tahu kau selalu ada untuk ku.
Bertahun-tahun sudah mungkin sudah 7 tahun lebih mengenal mu dengan segala cerita kita, mundur dan maju membuat cerita kita kadang-kadang tidak seindah kisah-kisah yang terjadi dalam hidupku, namun cerita selalu berganti namun kehadiran mu selalu menjadi bagian tersendiri, kau seperti benang merah dalam kisah-kisah itu, kau yang tak pernah nampak karena “diam” membuatku terenyuh dan ingin selalu bersandar di pundak mu malam itu serta membiarkan tangan mu tetap menggenggam tanganku , kau yang selalu coba ku ingkari bagai cahaya lilin yang coba membantu ku menemukan makna menanti dalam kedewasaan.
” semoga apa yang kita bangun mendapatkan ridho-Nya”
Amin…
Untuk mu yang selalu menggenggam ku ketika terjatuh