Home
Picture taken by Eva Taibe, Thessaloniki October 2013

Picture taken by Eva Taibe, Thessaloniki October 2013

Berbagi dalam Penggalan Kisah

by Patmawaty Taibe

“apa sih yang kau cari dalam kehidupan ini, tanya seorang kawan padaku, aku tersenyum jawaban ku singkat “entah” itu kataku”.

Mungkin butuh proses panjang untuk menjawab pertanyaan kawan ku itu, mungkin butuh waktu bertahun-tahun memikirkannya butuh melintasi banyak tempat, berkenalan dengan banyak orang dari muka bumi ini. Waktu kecil saya selalu bermimpi akan jadi apa nantinya, yang selalu terpikirkan adalah keliling dunia, tapi dengan apa, saya lahir dalam keluarga yang sederhana namun sangat mementingkan pendidikan, buat bapak dan ibu saya, tidak ada yang bisa dia wariskan kepada kami, anak-anaknya selain ilmu dan pendidikan yang layak.

Ibu saya akan mati-matian untuk hal yang satu ini, kadang-kadang harus mengorbankan malu untuk bisa mewujudkan impiannya untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu pada anak-anaknya. Bapak saya akan pontang panting mencari nafkah untuk biaya pendidikan kami, bukan hanya kami tapi beberapa orang sepupu saya pun, menjadi tanggungannya. Bapak saya PNS biasa yang memiliki usaha peternakan ayam, berjuang menghidupi kami, tidak ada kata tidak untuk pendidikan kami, Ibu saya rela mengorbankan karirnya untuk memastikan anak-anaknya mendapat pengasuhan yang layak, mengajari kami menjadi manusia yang berakhlak, nilai-nilai moral yang akhir-akhir ini baru kusadari begitu penting.

Usia saya memang tidak muda lagi, bukan lagi anak umur belasan tahun atau remaja yang mencoba menjadi dewasa di usia awal 20 tahunan atau usia frustrasi 25-29 tahun. Usia saya saat ini 30 tahun, punya karir dan banyak orang yang bilang termasuk kategori lumayan. Sejak kecil saya dididik oleh orangtua untuk mendapatkan sesuatu dengan proses, tidak serta merta apa yang kuinginkan bisa kuraih semudah membalikkan telapak tangan, mungkin karena inilah saya menjadi sangat kreatif berimajinasi, saya belajar bermimpi sejak kecil, mimpi yang diam-diam kurawat dalam buku harian atau tulisan di secarik kertas yang entah kusimpan dimana, hingga doa yang tidak terucapkan sama sekali.

Selain belajar bermimpi saya pun terlatih untuk bersabar, saya ingat dulu sewakt duduk di bangku SMU, sekolah saya termasuk sekolah favorit ada banyak anak konglomerat  dan pejabat yang bersekolah disana, mereka bisa mengenderai mobil, punya barang-barang branded, saya mana tahu hla itu, untuk beli bajupun saya hanya bisa beli sekali setahun kalau lebaran baru dapat jatah beli baju baru, jadi kalau ada baju yang saya inginkan saya hanya berharap semoga baju itu masih ada ketika kelak saya punya uang, jika sangat menginginkannya maka saya akan mengajukan proposal pada bapak, biasanya berhasil kalau dengan bapak, tapi kadang-kadang baju itu sudah tidak ada. Hal inilah yang mungkin membuat saya tidak peduli dengan trend, saya memiliki style sendiri dan merasa nyaman dengan style itu, saat ini jika berbelanja saya hanya membeli barang yang benar-benar saya butuhkan dan jika barang tersebut benar-benar saya inginkan, tidak peduli sudah ketinggalan jaman atau masih trend, mungkin ini juga yang membuat saya menyukai toko barang bekas. Ibu saya bilang “jika kau tidak bisa menahan maka kau bukan anakku” kata “menahan” disini dimaksudkan merem keinginan-keinginan non produktif seperti “shopping”.

Begitupun dalam belajar, saya dulu mungkin salah seorang pengidap dyslexia, karenanya saya termasuk lambat belajar membaca, saya sulit membedakan huruf, saya suka menjadi bahan olok-olokkan teman-teman karena tidak bisa membaca di kelas 2 SD, saat teman-teman lain sudah bisa membaca dengan baik dan lancar saya masih sibuk membedakan huruf, dan menyambungnya, hidup saya sulit sekali waktu itu, saya mungkin termasuk korban bullying. Tapi karena suka dibully dengan teman-teman SD dulu saya semangat belajar, saya suka dengan pelajaran-pelajaran yang justru tidak umum seperti geografi, ilmu bumi, menggambar, IPS, menurut orang tidak penting tapi saya belajar mati-matian, sekali lagi saya belajar untuk memilih melakukan apa yang saya senangi walau orang bilang itu tidak baik, tidak bisa menghasilkan uang, tapi saya percaya dengan teguh suatu saat itu berguna.

Karena merasa ditolak oleh lingkungan sekolah saya akhirnya terbiasa menjadi diri sendiri, saya bahkan suka berkhayal di kelas suatu saat akan datang super hero yang menolongku, dan teman-teman ku semua bisa melihat kehebatan saya, tapi sekali lagi tidak berhasil, super heronya tidak pernah datang, tapi yang datang adalah motivasi intrinsic yang menumbuhkan need achievement terselubung, saya menyukai ini karena dengan ini saya tidak perlu bersaing ataupun iri dengan keberhasilan orang lain, cukup percaya diri bahwa kita mampu melakukannya, saya tidak butuh comparison untuk menjadi lebih baik, yang ada adalah kebutuhan untuk bertumbuh dan membuktikan pada diri sendiri bahwa kita mampu. Hal ini lama kupelajari dari hal tersulit bagi manusia adalah menerima kelebihan orang lain. Setelah sampai dititik ini saya mulai menyadari bahwa pengalaman masa kecil luar biasa mempengaruhi watak dan kepribadian kita.

Saat ini saya pun masih dalam tahap belajar untuk bersabar dan bersyukur, kalau kita bersabar maka kesyukuran itu akan ikut didalamnya, mungkin dengan menerima apa yang ada maka akan mudah membuat kita lebih memahami hadir-Nya Tuhan disisi kita. Saat ini saya mencoba untuk tidak banyak mengeluh, banyak berterima kasih, melihat hidup adalah hari ini, dan lebih baik diam ketika marah.

Saat ini memang saya masih mencari apa yang kucari tapi setidaknya kalau ditanya saat ini saya hanya ingin menjadi lebih sederhana, baik dari segi material atau pun jiwa. Dan saya bisa melihat ini dengan BERBAGI. Berbagi senyum, berbagi tawa, rezeki, ilmu, personal space, dan mungkin kisah sederhana ini bisa menjadi bagian dari berbagi. Dengan berbagi/ menolong sesama makhluk, sesungguhnya bagian dari menolong diri sendiri.

Salam berbagi, tulisan ini terinspirasi dari pertemuan-pertemuan yang mengajarkan untuk saling berbagi. Tulisan ini kupersembahkan khusus untuk DR. Kyu terima kasih sudah menjadi bintang utara dikala hati terperangkap dalam setumpuk keluhan hidup di Thessaloniki dan akhirnya selalu menjadi penunjuk arah pulang ke rumah “BERSYUKUR”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s