Home

rome4

Seperti biasa selalu ada saja keinginan untuk tetap terkapar di tempat tidur saat pagi hari, terbungkus selimut dan dengan kamar yang gelap tanpa suara, maklum kamar saya sama sekali tidak memiliki jendela, satu-satunya jendela di Flat ini ada di Kamar Ate Nita, saya biasa membuka pintu yang menghubungkan antara kamar saya dan Ate Nita kalau ingin mengganti udara.

Tapi sejak 3 bulan lalu saya memutuskan untuk menjadi “morning person” alias apapun yang terjadi saya adalah orang yang harus bangun pagi. Sejak jaman batu, sejak saya kuliah, saya selalu merasa sulit bagun pagi, walau harus bangun sholat subuh, tetap saja saya bangun jam 11 pagi, bahkan ketika sudah mulai bekerja dan harus mengajar pagi seringkali saya terlambat dan lagi-lagi memindahkan jam mengajar, di kalangan teman-teman dan Mahasiswa, saya sudah dikenal susah bangun pagi.

Secara sadar saya selalu menginginkan untuk bisa menjadi orang yang bisa bangun pagi, tapi kendala dan godaan dipagi hari selalu membuat saya gagal. Namun modal tekad tanpa action hanyalah omong kosong, kebiasaanlah yang akan membuat kita berhasil untuk menjadi seseorang yang sukses, makanya sering kali diajaran Agama di anjurkan untuk biasakanlah berbuat baik. Berbekal kata bijak Aristotle “Quality is not an act, it is a habit” saya bersemangat menjadikan bangun pagi sebagai suatu kebiasaan.

Saya ingat sejak bulan January tahun ini, sebagai awal tahun dan bulan lahir saya, maka saya memulai semua hal yang ingin saya biasakan khususnya bangun pagi ini, namun hampir di bulan January saya hanya berhasil bangun pagi layaknya 5 kali tanpa tidur kembali, selebihnya selimut, bantal dan kasur lebih kuat godaannya, memasuki bulan Februari saya mulai menguatkan tekat, saya mulai rajin ke Gym ikut kelas yoga di pagi hari, dan mulai berhasil menyukai greek salad dengan olive, dan mulai rajin ke pasar membeli buah dan sayur, saya terbiasa makan buah dan sayur di Negara ini sejak tinggal dengan Ate Nita dia mengajarkan saya bagaimana membuat Greek Salad yang enak walau pertama kali saya merasa seperti kambing tapi lama-lama suka. Selain Greek salad dia juga mengajarkan makan yogurt dan buah, saya suka mencampur yogurt dan strawberry serta madu, kadang dibuat jus kadang dicampur seadanya.

Ate Nita, Philippine lady yang kalau pagi-pagi buta sudah bangun dan berangkat kerja, pulangnya malam, sehingga sebagian besar waktu saya lebih banyak sendiri di rumah, paling kalau mumet dengan tugas saya bakal karokean, perlu diketahui salah satu keuntungan tinggal bareng dengan orang philiphina adalah mereka punya alat karoke lengkap dan karena terbiasa sendiri ini jadi tantangan buat saya untuk bisa mengatur waktu sebaik-baiknya dan tidak tergoda untuk tidur, sekali lagi semuanya begitu sulit di awal. Setelah tiga bulan melalui ini semua saya mulai merasa sedikit ada perubahan, sejak rutin ke Gym di pagi-pagi buta atau kalau tidak sempat di pagi hari maka saya bakal ngambil di sore hari atau malam hari, demi menghemat tagihan listrik maka saya selalu mandi di Gym sehabis berolahraga.

Setelah Gym biasanya saya suka ke pasar ngobrol nggak jelas dengan penjual sayur disana, saya juga lagi membiasakan telinga dan mulut saya berbahasa Greek, maka komunikasi di pasarlah yang paling baik. Pulang, biasanya saya langsung buat yogurt, tapi kalau laper banget dan saya makan Philadelphia dan Cappuccino, sumpah menu ini adalah menu andalan tapi gula dan keju pasti kalorinya tinggi, maka saat ini saya menjatah diri saya untuk Philadelphia dan cappuccino dua kali sebulan. Makan malam saya biasanya ikut menu Ate Nita, tapi saat ini saya lagi berusaha hanya makan sayuran dan buah.

Sejak musim dingin kemarin saya selalu ingin menulis diblog saya, tapi hanya 2 tulisan yang berhasil diposting, semuanya sama, semua cuma “omdo” Omong doang, Nah setelah saya pikir-pikir dan merenungi hidup saya saat ini sungguh luarbiasa dan memberi saya kesempatan besar untuk lebih mengeksplorasi diri, mengajarkan diri untuk lebih disiplin. Secara umum saya adalah tipekal orang yang terbiasa bekerja di bawah tekanan, saya selalu menunggu deadline untuk menyelesaikan sesuatu, nah setelah meyadari dan membaca sebuah buku keren, sampai sekarang saya masih membacanya, judulnya “The Road Less Travelled” karya M. Scott Peck, saya sadar kalau ternyata saya mengalami yang namanya procrastination, alasannya sederhana saya selalu mendahulukan yang enak-enaknya lebih dahulu padahal sesungguhnya menunda-nunda pekerjaan itu atau menunda-nunda sesuatu menunjukkan ketakutan kita terhadap hidup.

Saya banyak belajar soal diri saya, mungkin kontemplasi sejak membaca buku tersebut, sayapun menyadari semakin membatasi diri dengan banyak orang, saya lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar atau di apartemen, saya lebih menikmati waktu degan diri saya, kalau dulu saya selalu mau berteman dengan siapa saja, atau ramah dengan setiap orang, sekarang saya merasa agak berbeda saya menjadi lebih selektif dalam berteman dan bergaul, tidak menganggap semua orang adalah teman, tapi saya sudah bisa membedakan kadang-kadang ada orang yang hanya bisa kita jadikan sebagai kenalan dan setelah itu kita bisa saja lupa, saya bisa bedakan classmate dan friend, kalau dulu saya suka bilang oh teman saya, sekarang saya mulai bisa membuat perbedaannya.

Sayapun dulu paling sulit bilang tidak ke orang lain walaupun sebenarnya tidak bisa, tapi tetap saja saya usahakan, nah sekarang saya lebih individualis, saya tidak bisa Bantu karena saya memang tidak bisa. Kalau diajak kemana saya biasanya lebih mempersilahkan teman saya yang milih dengan alasan saya menghargai kamu, tapi sekarang saya bakal jawab saya mau kesini, dan sebenarnya sekarang saya memilih untuk lebih banyak jalan sendiri tidak temanan dengan orang yang neko-neko menurut pendapat saya.

Di sini saya punya beberapa orang teman yang seringkali saya ajak mengobrol persoalan hidup, kematangan psikologis, persoalan hubungan dengan orang lain, kami saling memberi pandangan soal kisah hidup ataupun perspektif dan menurut saya, untuk saya di umur saya saat ini hubungan yang seperti inilah yang saya butuhkan. Saya menyadari banyak hal yang membuat saya merasa begitu banyak membuang-buang waktu selama ini, saya mulai menjalani jalan yang mungkin tidak banyak orang yang memilih jalan ini, saya memulai perjalanan spiritual saya, mencoba lebih mengenali lebih jauh ketakutan-ketakutan saya sendiri, kelemahan dan kelebihan, hingga harapan apa yang paling kuinginkan dalam hidup ini.

Saya belajar menjadi pendengar yang baik, menurut saya tidak banyak orang yang bisa mendengar dengan baik, kita besar dan karena alter ego kita maka keinginan untuk didengarkan menjadi hal yang luar biasa besar dalam hidup ini sampai-sampai kita lupa kalau sejenak kita mendengar orang lain maka ada kebahagiaan yang tidak bisa saya gambarkan. Well tulisan ini sebenarnya saya peruntukkan untuk berbagi kisah bagaimana sulitnya menjadi orang yang lebih baik, “life is difficult” this is a great truth, one of the greatest truth. It is a great truth because once we truly see this truth, we transcend it. Once we truly know that life is difficult – once we truly understand and accept it – then life is no longer difficult. (Peck, The Road Less Travelled).

Advertisements

One thought on ““Morning person”

  1. Menginspirasi banget eva…. Saya juga sedang belajar untuk bangun pagi…aahhahaha
    Sukses ya disana….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s