Home

SAM_0860Spring Thessaloniki

Seperti postingan sebelumnya “morning person” maka tulisan ini wujud dari dokumentasi kebiasaan saya untuk bangun pagi. Menulis setelah berjalan atau melakukan aktifitas pagi saya jadikan kebiasaan untuk memberikan saya sedikit refreshing produktif sebelum memulai jam kerja panjang dalam menulis tesis, sebelum menjamah lembaran jurnal ilmiah yang harus saya review, sebelum bergelut dengan voice recorder dan mulai melakukan transcript data penelitian.

Hari ini, saya bangun tepat pukul 5.30 Am, tiba-tiba terbangun dan sekali lagi godaan untuk terus tidur masih menghantui, sayapun masih sulit melalui godaan tersebut, masih sulit menyibak selimut, buat saya pertempuran sengit ini sungguh sulit dilalui, saya biasa bangun, kemudian kembali menelungkup di dalam selimut, hingga kini saya masih harus berjuang bolak balik di tempat tidur, bergumul dengan bantal dan selimut layaknya 10 hingga 20 menit.

Karenanya saya selalu menyetel alarm saya 30 menit lebih awal dari jadwal bangun yang saya inginkan, saat ini saya masih belum memiliki jadwal bangun yang persis sama, tapi setidaknya mata saya mulai melek tepat pukul 5.00 pagi teng, dan peperangan pun dimulai. Well mari lupakan sejenak mengenai ritual bangun pagi ini, saya rasa akan mulai membosankan bagi kalian mungkin yang membacanya.

Hari ini saya akan menulis kisah saya yang terlalu bersemangat bangun pagi, setelah pukul 5.30 Am saya ke kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi, setelah itu saya minum segelas air putih, setelah itu saya kembali ke kamar dan mulai membuka buku pelajaran Bahasa Greek, saya lagi belajar membaca huruf-huruf dan mulai membaca katalog film festival kemarin, saya membaca dengan melafalkan setiap hurufnya, dan mulai meniru gaya bicara teman-teman Greek saya, atau para Greek yang sedang ngobrol di jalan.

Tepat jam 7am saya keluar kamar, Ate Nita sudah bangun dan siap-siap untuk berangkat kerja, kami saling menyapa dalam bahasa Greek, “Kalimera” artinya selamat pagi. Ate Nita minum kopi sayapun membuat Lemon dengan air panas, saya rutin meminum air panas dan lemon di pagi hari, sangat bagus untuk tidak masuk angin dan membuat mata semakin melek, dari beberapa artikel yang saya baca perasan lemon dan air panas di pagi hari sangat baik untuk kesehatan, khususnya bagi orang-orang yang mengalami gangguan mood, saya merasa di musim dingin kemarin saya terkena depression syndrome, swing mood dan karena itulah saya membiasakan minuman ini, dan sejauh pengalaman saya minuman ini memang menyehatkan dan pastinya buat yang lagi diet minuman ini saya sangat rekomendasikan.

Ate Nita berangkat sekitar 7.30 am, dan sayapun siap-siap ke Gym, sebelum berangkat saya beres-beres rumah, cuci piring, ngepel, beresin kamar dan tempat tidur siapin barang-barang yang akan saya bawa ke Gym, maklum saya selalu mandi di Gym sehabis berolahraga dalam rangka penghematan biaya listrik. 8.30 Am saya berangkat ke Gym.

Dalam perjalanan menuju Gymnasium di Thimizki street, dibutuhkan sekitar 10-15 menit jalan kaki, pagi ini langit berwarna kelabu, dingin merasuki, lonceng gereja berdenting, karena hari ini hari sabtu jalan masih tampak lengang, idealnya di Thessaloniki toko-toko mulai buka jam 10 pagi, tiba di Gymnasium saya melihat tidak ada satupun orang yang ada disana, hanya ada seorang perempuan berjalan dan membawa kamera, dan seorang cowok di depan komputer di meja resepsionis, dan ternyata 9.00 am untuk hari sabtu masih terlalu pagi untuk berolahraga, saya terlalu bersemangat di sabtu pagi.

Karena merasa kecewa dan tengsin, maka saya memutuskan ke Aristotle square sekalian ke pasar di pagi hari, saya yakin di sana pasti ramai, betul dugaan saya pasar sudah mulai ramai, penjual ikan dan daging teriak-teriak “Horiste, Horiste, Horeste, kiriya”. Saya selalu suka dipanggil “kiriya” kalau belanja di pasar atau sedang mengantri untuk bayar bills, kesannya dewasa banget, seperti “Madam” umur saya sih sudah pantas untuk dipanggil “Madam” tapi terus terang saya masih sangat ingin disapa “Mademoiselle”.

Setelah selesai berbelanja, saya memutuskan untuk berjalan di pinggir pantai, perlu diketahui Thessaloniki merupakan kota yang berada tepat pinggir pantai, sewaktu pertama kali tiba di Kota ini dan melihat pantai saya senang sekali, apalagi di bagian kota dekat dengan pelabuhan, saya selalu ingat jalan penghibur di Makassar, di pinggir pantai dan jalan nusantara, suasana disini mengingatkan saya dengan kampung halaman, tapi di Thessaloniki fasilitas publik lebih memadai, mungkin karena populasi penduduknya tidak sebesar Makassar, jadi gampang merawatnya dan semua orang lebih besar peluangnya untuk menikmati fasilitas tersebut.

Dalam perjalanan pulang inilah saya menemukan hal-hal kecil yang menarik mungkin bagi sebagian orang biasa saja, hal-hal yang sangat manusiawi, saya suka menyebutnya sebagai geliat pagi, saat berjalan di pinggir pantai saya melihat laut begitu tenang, langit terselimuti kabut, walau berkabut tapi tetap saja cahaya matahari menyilaukan mata, cuaca masih terasa dingin, saya melihat sepasang kekasih yang umurnya telah berusia senja, rambut mereka memutih, baju mereka berwarna senada demikian pula celana yang mereka kenakan, tanpak seperti seragam sekolah bagi saya, saat mereka berjalan mereka saling memegang tangan, kadang-kadang si Kakek merangkul si nenek, mereka bahagia sekali bisa menikmati waktu bersama.

Udara pagi terasa, bau laut yang khas, kapal-kapal tampak dari kejauhan asapnya mengepul dari cerobong, seperti lukisan rasanya, saya mulai belajar mengabadikan setiap moment kecil hingga besar sejak dua tahun lalu, saya mulai memperhatikan sekitar saya dengan seksama, mulai merasakan jalan yang sehari-hari saya lalui selalu ada perbedaan, seseorang pernah berkata ke saya traveling itu tidak selalu harus diidentikkan dengan perjalanan atau wisata dari satu kota ke kota lain, perjalanan itu harusnya setiap hari, hidup ini penuh kejutan setiap harinya, jagad raya memiliki sejuta pesona dalam partikel terkecilnya.

Hal-hal kecil nan sederhana yang berada di sekitar kita seringkali menjadi hal yang biasa dan luput untuk diperhatikan, sekali lagi inspirasi pagi memang sederhana namun memikat hati, seperti sepasang kekasih senja yang berjalan menyusuri jalan, tersenyum, menatap satu sama lain, kebahagian mereka begitu sederhana tidak berpelukan atau berciuman layaknya muda-mudi yang sedang tergila-gila, mereka sederhana karena telah menjalani pernikahan dalam waktu yang lama, mungkin ada benarnya jika kita bisa menemukan makna dari biasa maka ada perjalanan panjang yang penuh dengan keindahan dan membuatnya menjadi lebih sederhana.

Advertisements

2 thoughts on “Simply Morning

  1. wahhhh.. Buuu evaa.. saya senangg dan suka skaliii baca tulisan dan postingan* yg sngt mneginspirasii .. terima kshh you is my inspiration

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s