Home

Rome edit

Lebaran, 2014

Jelas ada yang berbeda lebaran kali ini, ini bukan kali pertama saya merayakan lebaran idul fitri jauh dari Rumah tidak mencium masakan mama dan tentunya berharap cepat pagi untuk bisa makan buras. Kali ini sedikit berbeda saya berlebaran di luar negeri, luar Indonesia, saya berlebaran di Rome, Italy Negara yang mayoritas kristian, tapi mesjidnya terbesar di Eropa.

Puasa kali ini sayapun harus berjuang melawan teriknya musim panas antara Yunani dan Italy, 18 jam menahan lapar dan dahaga. Tidak semudah yang kukira, walau berasal dari Negara tropis tapi ada perbedaan rasa panas di kedua Negara mediteranian ini, panasnya kadang-kadang sungguh menyengat dan kadang-kadang membuat saya sulit bernafas.

Kembali ke pengalaman berlebaran di Luar Negeri, saya harus sabar dan harus bisa menahan rasa emosi saat merindukan orang tua terlebih lagi saat berbicara dengan mama di Telepon.

Pengalaman itu mahal harganya kadang-kadang kita harus mengorbankan banyak hal dan menjadi dewasa itu kadang-kadang harus mati rasa, tapi tidak mengapa kan kalau saya sedikit bersedih malam ini, saya tahu saya bukan makhluk yang sempurna, tapi marilah sedikit menikmati kesunyian berlebaran tanpa takbir malam ini, tanpa ketupat dan buras, setidaknya saya berhasil membuat lasagna hari ini untuk berlebaran besok.

Menulis kisah ini saya ditemani lagu Bimbo “lebaran sebentar lagi” meleleh sudah air mata ini, walau bagaimana pun semangat berlebaran bukanlah diukur dari bau masakan mama, tapi spirit untuk memaknai hal-hal yang jauh dari perkiraan dan perhitungan akal, sesuatu yang hanya bisa aku jelaskan dengan satu kata “Yakin”.

Kalau hari ini saya begitu romantis dengan kerinduan akan kampung halaman, itu karena saya dibesarkan dalam budaya berlebaran bersama. Suara takbir yang sengaja kupilih kini membuatku sulit untuk menahan tangis yang menderu-deru, sejak kecil saya terbiasa dengan takbir di malam lebaran, terbiasa bertakbir keliling bersama sepupu dan adik saya di kampung.

Mungkin inilah mengapa budaya mudik menjadi hal yang terpenting di hari raya lebaran di tanah air, kenangan untuk mengulang dan mengulang kebersamaan itu, perlu jadi anak rantau untuk memaknai perasaan galau ini, perlu menjadi anak rantau yang nyata karena sesuatu dan lain hal membuat kita tidak bisa nyata berada bersama keluarga.

Dan untuk keluarga yang mungkin tidak bisa berkumpul bersama pada hari lebaran ini bisa memaknai betapa pentingnya kebersamaan dalam keluarga. Kali ini lebaran di Rumah jalan daeng tata sepi, saya masih berada di sini, sedang adik saya yang bungsu masih harus jaga 24 jam di UGD. Orangtua saya dan adik saya dan suami serta keponakan bersama Insya Allah akan menjadi pelengkap kebahagian, saya dari benua Eropa, berdoa semoga lebaran tahun depan bisa bersama keluarga lengkap, semua diberikan umur panjang dan kesehatan sehingga kiranya bisa kembali menikmati kebersamaan yang tak bisa dibeli dengan apapun jua. Selamat Hari Raya Idul Fitri 2014, Maaf lahir batin.

Salam Mewek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s