“I live in Europe”

1922798_636063273097860_1686549136_n
Thessaloniki, Winter January 2014

Hari ini saya mau megisahkan beberapa pengalaman selama menjadi mahasiswa di luar negeri, apa yang berubah, apa yang tetap dan apa yang bermakna, sejauh ini saya masih merasa sama, bahkan masih tetap dengan setelan jins dan kaos oblong sebagai gaya paling nyaman. well inilah beberapa kisah ngalor ngidul yang tidak jelas dan sempat terangkum, beberapa bulan terakhir ini saya mengalami kendala dalam menulis, mungkin karena faktor umur atau banyaknya tipe bahan bacaan membuat saya kesulitan menentukan cara bertutur.

sangking teparnya, saya tidur pas matahari terbenam 9;30 malam, well karena ini summer maka cuaca di Rome panas dan gerah, lainlah gerahnya dengan Makassar, kalau ini sangking panasnya, rambut saya seperti terkena api, tapi saya belum cerita kenapa bisa “tepar” hitter untuk air panas di apartemen tidak bekerja, tampaknya ada masalah yang serius, jadilah saya malas mandi karena air di sini walaupun musim panas airnya tetap saja sama dinginnya di musim dingin.

Karena kami berencana untuk pergi ke Venice minggu depan, maka kami memutuskan untuk ke stasiun kereta api terdekat, bangun pagi dan masih mencoba melek di jam 11 pagi dengan secangkir kopi ternyata tidak cukup, perlu diketahui liburan di Eropa antara bulan Juli dan Agustus, gila mahalnya, apalagi suka dadakan gitu, well tapi liburan di musim panas tentunya menyenangkan selain hari lebih panjang, langit dan bunga-bunga berwarna warni, kerenlah buat foto-foto.

Apa yang terjadi di stasiun kereta api? karena Si D, merupakan pengidap obsesive kompulsif maka tidak maulah dia bersabar untuk antri di kantor pembelian tiket, harga tiket sekali jalan dengan kereta super cepat 98 E perorang, itu kalau beli di internet (website) or mesin, nah karena saya tidak mau rugi bayar segitu mahalnya maka saya bersikeras untuk nunggu, ternyata ada offer alias promosi untuk hari sabtu depan satu orangnya cuma 40 E, balik harganya sekitar 56 E perorang, jadi hitungannya 100 E untuk Pulang pergi, ini mahal sih tapi untuk dadakan bisa dibilang lumayanlah, nah pelajaran kalau jalan-jalan ke Eropa mending ke kantornya langsung dan tanya apa ada offer gitu plus jangan dadakan kecuali “force major”.

Setelah berhasil mendapatkan tiket kereta api, kami lalu menuju ke kompleks pemakaman di Rome, iya bulan Juni kemarin saya sempat ke komplek pemakaman ini tapi bareng Cia’ (tante) si D umurnya hampir 90 tahun, makanya bisa enteng naik mobil, tapi kali ini kami tidak bisa masuk naik mobil karena kita berdua nggak ada yang cacat, hamil ataupun tua renta, dan balita, maka berjalan kakilah kami berdua di komplek pemakaman, jujur saja kompleks pemakaman di Rome jauh dari kesan angker dan berhantu, kalau saya sih bilangnya apartemen dengan taman yang rindang dan apik, suasananya tenang dan meneduhkan, tapi berhubung karena cuaca di Rome hari itu tidak bersahabat maka jalan-jalannya agak sedikit terganggu.

Di kompleks pemakaman ini, sangat jarang ditemukan kuburan dengan tanah, tapi kuburan ini seperti layaknya apartemen, banyak lantainya, saya suka ingat kuburan batu di Toraja, kosepnya sama, tapi yang di Rome lebih canggih, mungkin karena harga tanah mahal kali yah,atau sudah kesulitan cari tanah kosong. Sekali lagi saya beruntung jadi orang Makassar, masih banyak tanah kosongnya walau harganya sudah selangit, tapi bisa dibeli dengan cicilan, alias kredit.

Setelah misi ziarah kubur berhasil maka kami pulang, karena sudah tidak sanggup dengan panasnya matahari dan perut sudah keroncongan, setiba di rumah, meja makan penuh ada acara pasta dan spagetti, Cio (om) dan adik D di rumah, salah satu Cio, pernah nampung kami selama beberapa minggu di Umbria, doi dokter, atlet renang, yang satunya traveler sejati, adik si D cantik, balerina dan insinyur teknik sipil, hmmm saya apa well untunglah track record eke di bidang akademik tidak terlalu memalukan, jadi jangan salah yah, selama bergaul dengan bule-bule ini, di Greece saya mah nebeng di rumah teman yang sudah seperti saudara banget,buat saya semua manusia itu sama saja, budaya pasti membuat kita berbeda satu sama lain tapi ada hal-hal yang bersifat universal, seperti konsep kebaikan, kerja keras dan prestasi.

Sejauh ini saya belum pernah ketemu dengan bule-bule yang memandang sebelah mata, karena saya orang asia, mereka sangat menghargai yang namanya usaha seperti layaknya saya menghargai mahasiswa saya yang mau berusaha sangat keras dalam menyelesaikan tugas-tugas mata kuliah. Selain itu saya suka jalan dengan para migrant worker di Eropa, tidak pernah sekalipun saya merasa dilihat sebelah mata karena bergaul dengan migrant worker yang rata-rata pekerjaan mereka adalah domestic helper, well orang-orang bisa melihat dan merasakan dari attitude kamu kok, buat saya simplicity is the key, seperti halnya simplicity is beauty. Semakin simple kamu semakin nggak neko-neko hidup mu dan semakin enteng menjalaninya dan yang melihatnya tau dan bisa merasakan seberapa kuat kualitas kamu dari attitude tersebut, well saya sendiri merasakannya semakin luas wawasan kamu dan semakin mampu kamu memaknai hidup semakin mampu kamu membawa diri intinya yakinul yakin ma diri sendiri.

Kembali ke meja makan dan pesta pasta, orang Italy itu percaya banget prosesi makan dan makanan itu sakral adanya, jangan heran kalau mereka bakal memilih kualitas terbaik untuk makanan, kebahagian buat mereka ada di meja makan, makanya jangan heran kalau restoran Italy atau Italian menu selalu menjadi favorit di seluruh dunia. Saya selalu menikmati ritual makan di meja makan sejak berkelana di Eropa apalagi menghabiskan waktu di Greece dan Italy, mungkin menjadi lebih sehat, hampir tidak pernah lagi makan junk food, dari yang tidak suka sayur jadi tergila-gila dari yang tidak bisa makan sayur mentah jadi pencinta salad.

Selain menjadi lebih kece dengan makanan sehat, saya juga menjadi penyayang binatang, kemajuan terbesar adalah phobia saya sama anjing alhamdulillah sembuh semenjak serumah dengan Magas anjing teman saya yang udah seperti sodara, selain itu belajar unconditional love dari si sussy Kucing mama D yang sayang banget sama saya, doi tau kapan saya sedih tau banget, selain itu saya mencintai yang namanya berkebun dan menanam bunga-bunga, di rumah D teras lantai atas indah banget kalau senja bisa lihat langit Rome yang warnanya pink, sambil tiduran di kursi dan baca buku, ahhh satu lagi yang berubah dari yang dulunya cuma baca buku kalau pas harus baca atau nyari bahanm sekarang ada bacaan tetap sebelum tidur yang harus diselesaikan dalam beberapa halaman.

Selain itu, saya juga belajar untuk menjadi lebih hangat seperti mengucapkan bounan nokte (selamat tidur) atau bouna sera (selamat pagi), ini tidak di italy saja terjadi di Greece, kami semua sebelum tidur pasti mengucapkan selamat tidur, sewaktu di Belgia teman saya juga cium pipi malah sebelum tidur sebagai ucapan selamat malam, di Belanda juga begitu, di Paris apalagi, well kebiasaan ini mungkin kesannya hipokrit tapi saya pikir this is good habbit to appreciate, sewaktu di Amerika juga demikian di Australia juga sih, kalau kebiasaan di indonesia bagaimana?

saya pernah baca tulisan seorang pakar yang sempat belajar di Amerika, kata si pakar ini orang-orang barat ini lebih islami di banding orang-orang islam yang ada di tanah air, seperti misalnya bohong, menghargai tamu, memberikan pelayanan prima, saya setuju dengan beliau bukan karena saya dapat beasiswa dari uni eropa atau kementerian luar negeri Amarika Serikat, tapi itu memang betul pengalaman si pakar tersebut saya merasakan sendiri, contohnya teman saya yang di Amsterdam rela mengorbankan kamar tidurnya sendiri karena harus menerima beberapa orang di apartemennya sekaligus, jadinya dia tidur di perpustakaannya dengan matras di lantai, dan beberapa hal mengenai kejujuran, penghargaan, toleransi seperti teman saya yang di Paris setiap kali saya mau makan doi harus baca dulu kalengnya (kemasan) untuk pastikan kalau di dalam makanan tersebut tidak ada kandungan babi, dia tau kalau saya tidak bisa makan babi selain memang karena saya menghindari makan daging merah saya juga adalah muslim.

Ngomong-ngomong soal daging Babi, jadi ada kejadian yang mengharukan waktu Paska, untuk orang kristen ortodoks paska the most important day, ada yang puasa nggak makan makanan yang berdarah, jadi Paska baiasanya mereka Greek membuat pangan dari daging, daging sapi, kambing sampai babi, nah karena kehadiran saya di keluarga teman saya X, keluarga besarnya memasak dan menghidangkan makanan bebas daging babi, saya tidak mention soal ini, buat saya sih sudah biasa makan semeja dengan orang yang makan Babi, dan saya sangat tidak bermasalah, tapi alhamdulillah saya selalu bertemu dengan orang-orang yang paham dengan hal ini, saat acara paska itu saya merasa bahagia sekali selain merasakan hangatnya keluarga Tipekal keluarga Greek hampir sama dengan Indonesia, yaya’ (nenek) teman saya berkali mencium saya, mengelus -ngelus tangan saya dan yah piring saya selalu full dengan makanan, mama dan yaya’ dari teman saya X selalu menyuruh saya makan, “lihat kamu kurus sekali makan, makan” Tipekal Greek. Setiapkali bertemu pasti “Eva eat something” “elakristo ke panagia .

Beruntunglah selama di luar negeri saya merasa memiliki keluarga sendiri, saya belajar untuk berbagi dengan orang-orang terbaik, walau hitungannya saya tidak terlalu sering keluar sangking sibuknya belajar, awal-awal saya stress karena pengalaman pertama belajar dan menulis laporan semua dalam bahasa inggris, sekiranya saat itu saya menghabiskan waktu dengan keluarga dukungan moril dari semua pihak, saya mengunjungi teman saya di beberapa kota di Eropa dan mereka semua adalah teman terbaik yang tidak hanya bertemu sekali, well intinya saya tidak travel to Europe but I stay in Europe (Thessaloniki-Rome)  and I know when I go back to Europe, I have my own family, then when my friend or her/his family come to Makassar they know they have own house in Indonesia.

So’ see you on the next story !!!

Advertisements

One thought on ““I live in Europe”

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: