Home
dapur 2

Magic Kitchen, Umbria 2014

Selama ini dapur merupakan hal yang biasa buat saya, tapi siapa sangka dapur ternyata memiliki keistimewaan yang tidak bisa kita temukan di dalam ruangan lainnya dalam sebuah rumah, hari ini saya menyadari dapur seperti magic, dan sebagai perempuan saya menyadari di tangan saya ada magic yang hanya bisa tercipta di dapur. Perempuan selalu identik dengan kata ini “dapur” apalagi seorang ibu pasti adalah dapur, ada pepatah yang mengatakan “setinggi-tingginya pendidikan perempuan jatuh-jatuhnya juga pasti di dapur” kalau dengar pepatah ini dulunya saya pasti marah dan akan beradu debat tapi pagi ini saya sadar kalau dapur ternyata sebuah ruang yang tidak hanya berisi panci-panci, piring dan segudang perlengkapan makan dan memasak, tapi dapur bukan hanya sebagai ruang domestik yang berbau bumbu, di dalamnya ada pintu ajaib yang bisa membawa mu ke sebuah tempat yang ku sebut “magic”.

Terlahir sebagai perempuan di keluarga Bugis yang feodal bukanlah hal yang mudah untuk perempuan seperti saya yang cenderung memiliki rasa ingin tahu yang banyak, tapi mau tidak mau saya harus bangga menjadi perempuan Bugis dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jujur saja saya pernah marah hingga depresi dengan segala kekangan dari keluarga, lingkungan sosial, karena merasa adat, budaya dan agama saya mengkungkung kemerdekaan saya dalam mengekspresikan diri.

Walau demikian, dengan segala hal yang ada dalam diri saya, keyakinan akan sang Khalid selalu terpatri di sanubari (maklum sebentar lagi 17 Agustus, sedikit didramatisir gaya bahasanya demi menunjukkan rasa nasionalis yang tidak pernah bisa digugat oleh siapa saja), hari ini saya duduk sendiri di sudut meja dengan secangkir kopi hangat, saya memandang keluar jendela, langit yang cerah walau sedikit berawan, angin semilir, dan kicauan burung menjadi pelengkap sarapan. Pagi ini Roma seakan seperti kota mati, khususnya di kompleks apartemen kami, jam 10 pagi di hari libur nasional tidak ada yang akan bangun sepagi ini.

Saya bergerak ke tempat cuci piring setelah menyelesaikan meja makan (akhirnya kinclong kembali), full of stuff, sisa makan malam kemarin yang sangat telat, dikarenakan saya dan D ke pusat perbelanjaan demi memuaskan nafsu belanja barang diskon, selama bulan Agustus ini sedang summer sale, tapi saya selalu bangga belanja di pasar second hand everyday on sale. Saya memulai membersihkan meja, ku pel dengan kain basah, selalu menyenangkan membersihkan dapur di pagi hari walau mugkin nantinya akan menjadi pekerjaan yang paling membosankan, seingat saya setiap kali mama’ saya menugaskan untuk membersihkan dapur saya akan menghindar atau mengerjakan dengan hati yang bermuram durja dan alhasil saya menghabiskan banyak energi.

dapur

Sometime you will be enjoying yourself in the kitchen

Kembali ke prosesi cuci piring, saat mulai mencuci piring satu persatu saya mulai melamun, saya baru menyadari betapa mencuci piring bisa menjadi hal yang paling menyenangkan dalam hidu, seperi layaknya terapi, kau melakukan perjalanan spiritual, saya suka membandingkannya dengan ritual sikat gigi sebelum tidur, sesuatu hal yang paling sulit kau lakukan karena rasa malas yang disebabkan ngantuk dan lelah setelah beraktifitas di siang harinya, namun di sela-sela kau menggosok gigi yang kau dengar hanyalah suara gesekan gigi kamu dan bulu sikat, rasa odol (pasta gigi) mewarnai damainya suara gesekan itu, saat menggerakan tangan, maju, mundur dengan posisi mulut mengaga, posisi ini adalah posisi terbaik untuk menjaga mata agar tetap melek dan dengan gerakan berulang-ulang maka secara tidak langsung wajah akan terasa segar, demikian halnya gosok gigi sama halnya dengan senam wajah sebelum tidur, makanya bisa relaks.

Saya tersenyum sendiri memikirkan adegan sikat gigi tersebut, kalau lagi stress dengan tugas semenjak kuliah saya bisa menemukan pencerahan dengan bersikat gigit, bahkan saya bisa membuat cerita seribu satu malam versi saya sendiri dengan ritual sikat gigi, seperti melakukan traveling singkat ke sepuluh Negara dengan kenangan dan impian yang terbaur menjadi satu “fiksi”.

Hampir selesai cucian piring saya, dingin, ku tutup kran air, saya kembali menatap ke arah pintu, senyum terukir di wajah saya karena kisah sikat gigi yang kubayangkan, selalu lucu dengan imaginasi sikat gigi tapi sungguh saya menjadikannya ritual untuk bermimpi, merawat mimpi yang tidak pernah kubagi dengan siapapun, hampir selesai denganpiring-piring ini, saya melangkah menyelesaikan beberapa tumpukan panci, kuberi sedikit vinegar untuk menghilangkan bekas minyak, lihat bekerja di dapur perlu perencenaan yang matang, dan hal ini bisa membuat gila jika tiba-tiba ada seseorang yang datang di dapur dan merusak perencenaan mu yang telah kau bangun sejak kau menatap tumpukan piring, meja yang berantakan, otak mu akan bekerja dengan cepat, merekam dan mulailah kau dengan proses pengambilan keputusan, yang mana akan kau pilih terlebih dahulu, sebagai seseorang yang belajar psikologi maka saya suka melihat proses ini, saya suka keluar dari diri saya sendiri, kebiasaan ini dimulai saat saya mulai suka menghabiskan waktu di dapur sendirian, berkesperimen dengan bahan makanan dan memasak, dan beruntunglah saya bisa bertemu dengan seorang laki-laki yang selalu suka dengan eksperimen saya (saya percaya semua perempuan di muka bumi ini akan bangga saat lelakinya mengatakan “your food is the best” it seem your man said that you are hot”).

Sekali lagi saya tidak bisa menyangkal kalau perempuan memang mencintai dapur, saya pun suka memikirkan beberapa bahan bacaan jurnal penelitian yang telah saya baca dan harus saya review kembali, sayapun membangun kerangka teori saya di sela-sela saya memotong-motong bawang, mencuci beras dan seterusnya bahkan hingga mempertanyakan suatu hal sebagai bahan penelitian saya, intinya dari pekerjaan ini bisa membuatku terbawa ke suatu tempat yang menghantarkanku ke suatu ide baru, kadang-kadang useless juga seringkali menjadi hal-hal yang sangat menginspiratif.

Saya menyadari beraktifitas di dapur bukanlah hal yang mudah, bukanlah hal yang sederhana, pilihan-pilihan sulit kadang kita temukan, kesendirian, dan tersakiti kadang-kadang muncul di ruang domestik ini, sebagai perempuan yang mudah terluka, dapur mungkin akan menjadi tempat untuk melampiaskan emosi, rasa marah hingga menemukan kebebasan “relieve’ melalui aktifitas di dapur, baru-baru ini saya menonton film yang sangat inspiratif menurut saya, judulnya “the lunchbox” film bollywood yang jauh dari bau bollywood, kisah cinta yang romantis dimulai dari surat menyurat melalui paket makan siang, yang menarik adalah adegan masak memasak, dapur hingga makanan menjadi hal yang selalu menyertai setiap adegan, bayangkan hidup ini sungguh sederhana, dan perempuan kadang-kadang lupa bahwa dibalik dapur dan makanan ada cinta yang sederhana dan mengharu biru yang mungkin membawa kita ke hal-hal yang istimewa dalam hidup ini.

dapur3

Rome, Winter 2014

Tiba-tiba saat piring terakhir ditangan saya, ingatan saya menuju ke Makassar, di rumah saya yang dapurnya terbilang kecil, orangtua saya kurang berpengalaman saat membangun rumah, karenanya ibu saya tidak memberikan sentuhan kebutuhan mendasar dari setiap ruang yang dibangunnya, sebagai keluarga besar dan suka memasak tentunya dapur menjadi tempat berkumpulnya sebuah keluarga, dapur menjadi tempat yang menyenangkan bagi semuanya, tapi ibu saya lupa, karenanya dapurnya tidak sebesar ruang keluarga, bagi saya keluarga saya lebih banyak menghabiskan waktu di dapur dan meja makan, jadinya kupikir untuk keluarga Indonesia lebih baik membuat dapur yang besar dan tidak terpisah dengan ruang keluarga, suatu saat jika nanti saya diberi rejeki akan ku buat dapurku menjadi kerajaan ku, saya terinspirasi saat berkunjung ke Umbria, di rumah om D ada dapur besar dan related dengan living room atas bawah ada dapur, peralatan dapurnya juga canggih sekali lagi perlu diingat Roman people selalu percaya kebahagiaan ada di makanan dan di meja makan dan dapur.

Setelah segala sesuatunya bersih dan mengkilap, saya berdiri di sudut pintu dapur memandang hasil kerja saya, ada rasa puas, bukan bermuram durja, saya pun menemukan beberapa ide soal proposal penelitian saya, selain itu saya percaya bahwa pepatah dan tradisi punya peran penting dalam hidup ini, kadang-kadang memang terlihat kolot atau kampungan tapi di zaman yang serba canggih ini apalagi sih yang kita punya selain tradisi dan kepercayaan itu sendiri.

Percakapan pagi ini sungguh menghasilkan karya besar, kadang-kadang kita lupa sesungguhnya ada hal yang sangat dekat dengan kita yang mampu membuat kita berbahagia, dapur, pekerjaan domestik adalah hal yang menyenangkan saya menyebutnya bagian dari terapi, untuk pertama kalinya saya begitu menerima peran gender sebagai perempuan (hal ini sangat personal, tidak bisa digeneralisir ke semua orang, saya menemukan makna domestik ini sebagai hal yang menyenangkan).

Sekedar info saya begitu bangga hari ini dan bahagia sekali saat melihat diri saya mampu membuat tiramisu dengan sempurna tanpa bantuan mentor saya, dan yang paling menyenangkan adalah yang mencicipi tiramisu tersenyum dan bilang congratulations Eva, tidak lupa kalimat “mamma mia che buono”, inilah ajaibnya dapur semangat, bahagia, rasa diterima dan bangga bersatu padu menjadi hal yang paling menyenangkan di dalamnya karena teori sederhana makanan adalah kebutuhan mendasar manusia, maka rajin-rajinlah ke dapur untuk menemukan rasa bahagia itu.

So let’s enjoy Pizza !!!

Salam Magic.

Advertisements

2 thoughts on ““Story in the Kitchen”

  1. Amazing. Sy senang skali baca tulisan* Ibu.. kerennn dan sangatt menginspirasi sy jg buat trus mnuliss. bu eva luarr biasaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s