Home

Copas

Pernah membuat keputusan yang sulit dalam hidup, pernah merasa bodoh sebodohnya karena memilih hal yang salah, demikianlah hidup. Pagi ini saat browsing saya membaca artikel (resume sebuah buku) judul bukunya “The art of choosing” ditulis oleh Sheena Iyengar, buku ini merupakan salah satu buku wajib baca bagi mahasiswa liberal art atau yang sedang belajar social psychology.

Saat membaca resume buku tersebut, tertulis bahwa western people percaya bahwa choice is good namun terlalu banyak alternatif pilihan ternyata tidak slamanya bagus, di dunia ini ada sebagian orang percaya bahwa “more choice is negative thing’, demikian kiranya mungkin dengan saya, saya mungkin adalah salah satu orang yang skeptis dengan pilihan, saya mungkin salah satu orang yang selalu pusing jika dihadapkan dalam begitu banyak pilihan dan kadang-kadang tidak bisa memilih, yang ada memberikan keputusan tersulit ke orang lain, mungkin terkesan putus asa, well sebagai orang Asia “Indonesia” saya terbiasa dipilihkan, dibesarkan untuk menjadi seperti yang orangtua mau,yang sosial mau, yang adat mau, pokoknya tergantung dengan hal-hal yang eksternal.

Bahkan ketika lebaran saat masih kecil mama’ saya selalu memilih baju lebaran itu sesuai selera doi, well karena saya punya adik perempuan yang tidak jauh berbeda, maka dikembarkanlah kami, hingga kami merasa bosan dan mengamuk untuk tidak dibelikan baju yang sama. Semenjak bisa memilih baju sendiri akhirnya terlihat jelas perbedaan saya dengan adik saya, kalau saya seringkali memilih baju dengan model yang unik dan mama saya seringkali tidak menyetujui pilihan saya.

Mungkin pilihan itu adalah bentuk pembangkangan, tapi pilihan dan memilih bukanlah proses yang gampang, walau kau memilih dalam sekian detik ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi sebuah pilihan. Secara ilmiah saat memilih ada dua sistem dalam memilih yakni, automatic system bersifat otomatis, tidak pernah off biasanya ini terkait aktivitas refleks, misalnya kebakaran dan tiba-tiba kita memilih lari, selain automatic system ada yang namanya reflective system,  sistem ini bersifat reflektif melibatkan logika dan alasan-alasan logis dalam kehidupan kita, nah mungkin proses ini membutuhkan pegalaman, kemampuan menganalisa dan kemapuan abstraksi, well saya selalu percaya dengan insting saat memilih sesuatu hal, kadang-kadang ada pilihan yang lebih membutuhkan ketajaman intuisi.

Saat memilih, dan dihadapkan pada beberapa pilihan bukankah juga sebuah pilihan, kalau saya sepakat menyederhanakan pilihan adalah jalan terbaik, proses menyeleksi dan mengeliminasi pilihan memang bukanlah hal yang mudah, tapi akan membuatnya lebih gampang, jika hati mu dan kamu mendengar sebuah bisikan dari hati kecil mu maka melangkahlah, jangan lagi kau tengok ke belakang. Nenek saya bilang ” ko ati’mu makedda, pettu ni tu adae” kalau hatimu berkata maka demikianlah keputusannya.

“Pergilah kemana hati membawa mu”

Thessaloniki, August 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s