“Pulang”

10579300_10202592955085737_1378342581_nTidak tahu harus memulai darimana, terlalu kusut dan entah bagaimana cara untuk mengurainya. Ini adalah tulisan pertama sejak tiba di Makassar, sejak bergelut dengan kehidupan nyata, berjuang melepaskan masa-masa liburan panjang sewaktu berada di Eropa, mungkin saya yang telalu lebay atau mungkin saya yang terlalu drama queen tapi apa daya saya memang sedang berada dalam tahap demotivasi, tahap kecewa berat dengan segala hal yang ada di negara ini, bahkan untuk jatuh cinta dengan diri sendiri pun begitu sulitnya, atau mungkin saya yang terlalu berharap banyak dengan negara ini, dengan pemerintah saat ini, saya ingat sewaktu di luar negeri sana, waktu itu saya berada di Venice menikmati libur musim panas, tepat 17 Agustus, dengan penuh khidmat saya berdoa, menyanyi lagu Indonesia raya di dalam apartemen, saat itu saya berharap banyak dengan pemerintahan bapak Jokowi, kala itu beliau menjadi kandidat CAPRES walau tidak terlalu peduli soal urusan politik tapi selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik.

Demikianlah, hingga tiba di Indonesia disambut dengan senyuman hangat, tawa haru dari seluruh keluarga, walau jujur saja air mata saya berlinang saat meninggalkan Thessaloniki, kota itu terlalu indah, menyisakan begitu banyak kenangan, persahabatan, kekeluargaan, serta momen percintaan, kota itu, kota terbesar kedua di Yunani, kota dengan gegap gempita Hoppa, dan pinggiran pantai yang bersih, bagi saya Thessaloniki adalah surga makanan, dari yang manis hingga yang kecut, Tureki dan turkenlis satu paket, roti khas thessaloniki ini adalah yang terbaik roti dengan aroma kayu manis dipadu coklat, vanilla dan almond, Ola kala’

well kembali ke Negara ku, di kota ku Makassar, kali ini musim hujan, hujan beberapa jam saja, di beberapa sudut bahkan beberapa jalan protokol mulai banjir, tetapi pisang epe dan gorengan pasti tidak akan mengalahkan tureki, kota ku tampak baik-baik saja, namun semua orang dengan mudah kelaparan dan harus berkejaran dengan waktu hanya untuk membayar cicilan kredit rumah, motor hingga handphone. kota ku tampak menyenangkan dan begitu rileks namun menyisakan para pelaku hidup yang tidak pernah measa puas akan hidup, kotaku yang mencoba menyediakan berbagai hiburan menggoda di dalam mall karena taman adalah hal yang mahal,

ruang publik, fasilitas publik tampak tak terbenahi, bukan karena minim fasilitas hanya saja orang-orang dikota ku belum mampu untuk menjaga fasilitas publik tersebut, bagi mereka sesuatu yang personal adalah kepemilikan suatu benda, bukan untuk dibagi seperti barang publik, karenanya kita bisa melihat sampah dimana-mana, dan betapa sulitnya membangun kesadaran masyarakat akan tempat sampah.

akhir-akhir ini saya sudah ragu apakah negara ini bisa bertahan di tengah gencatan globalisasi, Asean Community hingga AFTA, well saya sedang mencari cara untuk bisa bekerja di luar negeri, mungkin hidup dan mati disuatu tempat yang tidak ada cicak versus buaya versi lanjutan.

Adakah tempat itu….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: