Home

“I love you for sentimental reasons” (John Pizzareli)

Hampir setahun setelah berkelana dan merajut mimpi, kata bermukim selalu membuatku galau di kelapa ku bermukim berasosiasi bebas dengan hal yang mengikat, mengikat, saya akhirnya menyadari betapa menakutkan kata ini untuk ku, betapa takutnya diri ini untuk bermukim.

Jujur ku akui betapa melelahkannya hari-hariku selama setahun ini, betapa depresinya diri ini, saya sungguh tidak mampu mentolerir semua keadaan disekitarku, tampaknya ketidakberuntungan sedang menyukai, semua hal yang kurencanakan tiba-tiba tidak sesuai dengan yang kuharapkan, kebahagiaan sedang tidak berpihak dengan keadaanku saat ini.

Saya menyalahkan keadaan, menyalahkan beberapa orang yang tidak bertanggung jawab, mengeluh atas ketidak adilan, hingga membuatku kurang berempati terhadap orang lain, setiap pagi saya harus bangun dengan wajah sembab dan memilukan, saya berjuang keras melawan nafsu makan yang berlebihan akibat stress, saya berusaha untuk tidak tertidur dan membangun semangat, dan yang terparah saya kehilangan diri saya sendiri.

Mungkin bagi orang yang mengenalku dekat mampu melihat perubahan yang terjadi pada diriku, sayapun tidak mampu menghadapi orang lain dan hal-hal yang menuntut pendekatan emosi, saya menolak jam-jam konseling dengan alasan saya sendiri sedang tidak stabil secara emosi. Tidak banyak hal yang berubah tapi saya merasa sangat tidak kompeten akhir-akhir ini, saya merasa tidak mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan saya, bahkan saya pernah berpikir untuk mundur dari papan catur kehidupan.

Saat semua orang sedang tampaknya sangat religius dengan agama masing-masing saya justru kehilangan arah dengan simbol-simbol keagamaan. saya takut sangking takutnya saya memilih untuk stagnan, dunia ini memang sedang tidak nyaman ada banyak masalah, krisis disegala penjuru kehidupan, mungkin saya terlalu banyak membaca hal-hal yang tidak penting.

Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak terkoneksi dengan segala hal di muka bumi ini, saya memutuskan seutuhnya hanya terkoneksi dengan diri saya sendiri, walau dianggap selfish, tapi hanya inilah hal yang bisa menyelamatkan ku untuk sementara waktu. Saya tidak mau tahu dengan apa yang terjadi di luar sana, intinya saya hanya mengetahui beberapa hal yang pasti saat ini dan harus kuselesaikan sesegera mungkin.

dan sekali lagi lagu itu mengalun “I love you for sentimental reasons”

Semoga besok lebih baik!!!

“Catatan ini adalah salah satu bentuk terapi dan bagian dari eksperimen narrative writing for healing, Eksperimen dilaksanakan dalam waktu yang tidak ditentukan”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s