Home
Whitesburg - Lexington, October 2012

Whitesburg – Lexington, October 2012

Beberapa hari yang lalu saya memposting beberapa foto hasil jempretan semasa traveling ke beberapa negara (bisa dilihat di sini: Traveler of life ), sebenarnya saya tidak suka mengunggah foto di media sosial, takut dibilang narcis, tapi karena bahagia bisa bertemu kembali dengan file kumpulan foto tersebut saya akhirnya memutuskan untuk menguggahnya, semoga bisa bermanfaat bagi orang yang melihatnya. Tidak disangka dan diduga secara personal saya menemukan kenyataan bahwa sudah banyak hal yang telah saya lewati, foto-foto tersebut membuat saya termenung, flash back, memori, kota, keriuhan kisah dibalik perjalanan itu, mungkin bisa menjadi buku.

Sebenarnya saya bukan dari keluarga yang berlebih, orangtua saya sangat mementingkan pendidikan di dalam keluarga, sebagai anak sulung saya selalu beranggapan bahwa harus menjadi contoh yang baik di dalam keluarga, tapi sejak kecil saya memang sedikit aneh, mimpinya sering aneh, maksudnya tidak seperti pada orang kebanyakan, jadilah saya selalu bercita-cita sejak kecil berkeliling dunia, bahkan saya mencari profesi yang bisa membuat saya berkeliling dunia, di otak saya sejak dahulu adalah ilmu, sekolah adalah tiket keliling dunia itu, jadilah saya termotivasi untuk terus mengembangkan diri, tapi setelah melewati banyak airport, stasiun dan bertemu orang dari suku, ras, agama, bangsa yang berbeda-beda saya memahami bahwa sesungguhnya saya bukanlah tipekal orang yang menyukai mengunjungi tempat baru ataupun terobsesi dengan suatu negara tertentu atau memiliki keinginan menaklukan dunia.

Kesimpulan sementara yang ada adalah saya menyukai kesendirian, travel membuat saya memiliki waktu yang tenang dengan diri saya sendiri, boleh dipastikan saya tidaklah terobsesi ke suatu destinasi yang sudah banyak dikunjungi oleh orang, saya menyukai suatu tempat yang memiliki ikatan emosi, “part of my dream”, ada beberapa tempat yang kusisahkan untuk tak ku kunjungi karena tiba-tiba takut kehilangan akan mimpi itu sendiri, sewaktu di Eropa saya terobsesi ke Umbria dikarenakan penulis idola saya adalah Susana Tamaro, penulis dari Italia, yang judul bukunya kujadikan tagline hidup “pergilah kemana hati membawa mu” berasal dari region Umbria, di novel-novelnya yang ku baca juga banyak mengisahkan suasana kota-kota kecil di Umbria.

Tuhan ternyata suka mendengar bisikan kecil di hatiku, kadangkala saya diam duduk termenung, melamun di bangku kelas menyepi dari suasana kelas yang ribut dan panas, atau disela-sela guru menerangkan soal matematika, saya membayangkan ada seorang anak kecil yang juga sama dengan umur ku sedang duduk di kelas di belaha bumi sebelah sedang memikirkan hal yang sama, saya suka mengalami “day dreaming” saya suka menulis setiap hal yang kuinginkan dan lalu kulipat sedemikan rupa, Tuhan mendengarnya selalu.

Percayalah keindahan foto-foto yang kuunggah itu mengisahkan sederetah kisah emosional yang mengharu biru, tidak selamanya ada tawa dalam setiap foto, tapi juga ada rasa sakit, takut, khawatir hingga kesedihan akan kehilangan, saya termasuk tipekal orang yang menyukai hal-hal yang bersifat stagnant, saya menyukai hal-hal yang tidak memiliki dinamika, karenanya jangan heran kalau saya hanya memiliki segilintir kawan baik, tapi saya juga menyadari hal tersebut dengan rasional, jadilah saya menyenangi rumah dan hangatnya meja makan, kemewahan dapur dan indahnya teras. Karenanya jika sedang traveling saya menyukai untuk bisa berada di rumah dan memasak, sementara untuk mengatasi rasa takut dan anti sosial maka kumulailah dengan mencoba berjalan sendiri dengan menggunakan transportasi publik, jika ada yang harus kunamakan misi dalam setiap perjalanan ku mungkin mengetahui seluruh rute publik transportasi di negara yang ku kunjungi bisa menjadi misiku.

Terakhir tidaklah bisa kukatakan bahwa perjalanan itu berhasil jika hanya bisa menyisahkan foto narcis yang nantinya akan dipublish di account media sosial, bagi saya perjalanan merupakan kesempatan untuk semakin menjadi lebih baik saya banyak terisnpirasi dari orang-orang yang kutemui ada yang menjadi kawan hingga sekarang ada juga yang menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri, tapi setiap orang yang kita temui dalam hidup ini memiliki kisahnya masing-masing.

Semakin banyak tempat yang kita lihat sebenarnya membuat kita harusnya menjadi lebih sederhana dalam melihat kehidupan ini, harusnya membuat kita semakin paham bahwa tidaklah ada yang patut untuk kita banggakan hingga melebih-lebihkannya, tidaklah berhak kita memutuskan seberapa suci dan sekotor apa orang lain. saya mempercayai most of this life just part of the culture, and who’s created the culture ??? jawabannya kita telah tahu, more travel more you out from the box and this is could help you to avoid stereotype.

Well, setelah memposting foto-foto tersebut saya mulai kembali mengumpulkan mimpi-mimpi yang tersisa dan mulai memahami bahwa I had done so many things in this life I should appreciated, grateful serta mengingatkan saya untuk tidak berburuk sangka kepada Tuhan, terima kasih sesungguhnya “there is no strong person with an ease past”.

Be better…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s