Jejak

Aku mencari jejak ku dalam rekaman tulisan mu, tidak banyak dan juga tidak ku harap kau menyimpannya, seperti aku yang sudah lama menghapus seluruh jejak mu di dalam tulisan-tulisan ku bahkan dengan angkuhnya aku beranggapan telah selesai dengan kenangan, rasa kehilangan hingga mimpi yang terajut masif dan intens.

Tapi tidak kali ini, aku gagal dan harus kembali ke masa lalu masa dimana kita tertawa dan menghabiskan waktu dalam pembicaraan panjang di gagang telepon. Kau masih bertengger disana, di sudut ruang yang sudah lama tidak ku kunjungi, kau dengan mata mu yang sipit dengan kerutan halus disudutnya senyuman mu menghampiriku, menanyakan kabarku, “apakah kau merindukan ku?”, “apakah kau memikirkan ku?” entah.

kalimat itu bertengger pada paragraf tulisan yang kau posting saat kita masih bersama, “untuk pelangiku yang tak jenuh mendengar mimpi-mimpiku”. Sesaat waktu berhenti aku termenung kemudian tersenyum aku ternyata pernah menjadi pelangi mu. Demikianlah aku selalu menjadi pelangi, pelangi bagi mu, baginya dan mungkin beberapa orang yang pernah dekat dengan ku, sekali lagi entahlah.

Seperti yang kau ungkapkan kala itu aku adalah pelangi bagimu, pelangi selalu indah dan menampakkan dirinya setelah hujan, biasan cahaya matahari yang dipantulkan oleh tetesan air hujan, itulah aku hilang setelah sesaat membiaskan warna-warni di hidupmu. Butuh waktu lama untuk bisa menerima kenyataan bahwa aku hanyalah pelangi yang muncul sekali dalam kehidupan mu, butuh ribuan mill untuk menerima bahwa ada pelangi lain yang terbit dan tak kala indahnya dari diri ku.

Sesuatu yang perlu kau pahami bahwa aku kala itu masih begitu egois untuk memaksakan kehendaknya, memaksakan mu akan hal-hal yang tidak seharusnya kupaksakan, disisi lain harus ku akui bahwa ada keraguan yang begitu besar dalam diri ini untuk hidup bersama mu, aku sendiri tidak mengetahui apa sesungguhnya yang ku inginkan dalam hidup ini sedang kamu sudah begitu yakin dengan mimpi-mimpi mu. Wajar jika kau memilih untuk meninggalkan ku yang sibuk berkutat dengan hal-hal yang belum terselesaikan dalam hidup ku.

Tapi walau demikian aku tidak berutang penjelasan padamu demikian halnya kamu pada ku. Kita saat ini sudah semakin surut dan mungkin di pihak kita masing-masing menyadari hal-hal yang dulu sulit untuk kita pahami, butuh waktu dan selalu demikian adanya, jika aku pernah menjadi pelangimu kamu adalah salah satu guru terbaik ku untuk lebih mencintai diri ku sendiri, juga menjadi seseorang yang mengantarkan ku pada tahap keyakinan akan diri ini untuk menjadi diri sendiri.

Terima kasih karena tidak menghapus jejak ku di beberapa tulisan mu, aku bangga pernah mendampingimu, pernah menjadi pelangi mu. Semoga suatu hari nanti kita bisa duduk bersama hanya berdua ditemani secangkir kopi, tertawa dan mungkin akan saling menatap sembari membayangkan jika seandainya kita berhasil melalui ujian terberat sebagai sepasang kekasih, sayangnya we were not make it. 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Whitesburg, Summer 2008
Advertisements

One thought on “Jejak

Add yours

  1. ” pelangi selalu indah dan menampakkan dirinya setelah hujan, biasan cahaya matahari yang dipantulkan oleh tetesan air hujan…… ”

    ” authentic (y) “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: