Rejection

As I look back on my life, I realize that every time I thought I was being rejected from something good; I was actually being re-directed to something better. You must convince your heart that whatever God has decreed is most appropriate and most beneficial for you “

(Imam Ghazali)

11150568_917162258303939_301928880606486766_n
Rejection

Gagal dan berani untuk bangkit lagi merupakan hal yang tidak mudah dalam hidup ini. Saya seringkali merasakan kegagalan dalam hidup ini, juga tenggelam dan berkutat dalam kegagalan tersebut di waktu yang lama. Secara sederhana gagal merupakan hal yang tidak mudah untuk dipahami sebagai bentuk keberhasilan, menyadari kegagalan sebagai bagian dari keberhasilan merupakan hal tersulit saat merasakan sakitnya sebuah kegagalan.

Tahukah kau bahwa unsur sakit yang membuat kegagalan itu menyulitkan untuk dilalui adalah rejection (penolakan). Kegagalan psikologis yang dialami seorang individu adalah menerimanya perasaan tertolak. Dari beberapa jurnal penelitian menyatakan bahwa rejection adalah sumber emotional pain yang paling menyakitkan, salah satu sumber menyatakan bahwa otak kita memprioritaskan pengalaman rasa sakit atas penolakan disebabkan karena kita adalah mahluk social yang hidup berkelompok. Kebutuhan untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok/ group merupakan hal mendasar bagi seorang individu untuk merasa aman dan valuable sebagai seorang manusia.

Salah satu indicator individu itu bisa dinyatakan berfungsi secara psikologis adalah adanya kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok, sayangnya kebutuhan inilah yang menyebabkan kita seringkali merasakan emotional pain alias sakit hati dan merasakan kekecewaan, marah, sedih, dendam dan berbagai macam bentuk emosi negative. Rasa penolakan cenderung membuat individu lebih agresif, secara temporary menurunkan tingkat intelegensi, menghancurkan self-esteem, dan membuat kita sulit menerima sebuah alasan.

Lalu apakah kita bisa terlepas dari rasa sakit atas feeling of rejection, secara sederhana manusia tidak akan pernah bisa lepas dari pengalaman penolakan dalam segala aspek kehidupan kita sebagai makhluk social, kita membutuhkan pengakuan dari kelompok kita, dari pasangan kita, orang tua kita, teman, sekolah, institusi, kekasih bahkan musuh kita. Kita membutuhkankan penerimaan untuk merasa aman.

Tidak ada yang salah dari kebutuhan untuk diterima namun yang seringkali orang lupakan adalah cara merespon penolakan tersebut, kita tidak bertanggung jawab atas pilihan orang, kelompok kita untuk menerima ataupun menolak kita, tapi kita bertanggungjawab penuh atas pilihan kita dalam merespon pilihan tersebut. Kita bertanggungjawab penuh atas diri kita sendiri untuk menerima diri kita sendiri, menerima rasa sakit tersebut sebagai bagian dari kenyataan hidup yang mampu mendewasakan kita sebagai individu yang terintegrasi dalam kehidupan social.

Saat ini di tengah impian humanis dan gegap gempitanya HAM, kebebasan berdemokrasi, kebebasan berekspresi seacara tidak langsung semakin menjadikan kita sebagai mahluk yang semakin egois di muka bumi ini, hal ini semakin membuat kita memberikan pertanggungjawaban atas respon-respoon kegagalan ke oranglain, kita seringkali menuntut lingkungan untuk menerima kita, kita menyalahkan orangtua, keluarga, teman, pasangan, komunitas, lingkungan, Negara bahkan dunia untuk menerima diri kita, menyerahkan respon kegagalan kita melalui pengalaman rasa sakit atas penolakan yang kita alami.

Kita lupa bahwa menerima rasa sakit akan kegagalan merupakan cara terbaik untuk keluar dari rasa nyaman dan menjadikan kita sebagai manusia yang tangguh dalam hidup ini. Kita lupa untuk menyalahkan diri sendiri, kita terlalu sibuk menyalahkan pihak lain selain diri kita sendiri. Kita terlalu egois untuk berdamai dengan diri sendiri, kita terlalu sibuk membuat dunia ini menerima diri kita sedang diri kita sendiri tidak mampu menerima dan mencintai diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: